THE STAIRWAY TO THE THRONE
Pasar Sasaran
Manusia haus diskusi lintas iman yang bosan dengan klaim eksklusif.
Akademisi drop-out, mahasiswa pascasarjana yang sedang krisis tesis, peminat numerologi dan mistika komparatif, penggemar argumen ‘gila tapi masuk akal’, serta siapa pun yang ingin tertawa sambil mikir.
π Usia 25–55 tahun | Pendidikan S1 ke atas | Domisili perkotaan & digital nomad | 48% wanita, 52% pria — dan sisanya ifrit pensiunan.
π DAFTAR ISI (Bukan Rumor)
- Prolog: Empat Lelaki yang Tak Pernah Mati
- Bab 1: 92 — Kode yang Sama di Langit Berbeda
- Bab 2: Henokh: Yang Berjalan dengan Tuhan (dan Tidak Pulang)
- Bab 3: Elia: Kereta Api dari Asir
- Bab 4: Yesus: Kenaikan dari Gunung yang Sama?
- Bab 5: Muhammad: Mi’raj dan Sidratul Muntaha
- Bab 6: Al-Shuraym, Asir — Titik Lepas Landas Universal
- Bab 7: Gematria 92: Matematika Langit yang Membuat Sarjana Stress
- Bab 8: Root Unity: Satu Tangga, Banyak Sandal Nabi
- Bab 9: Epilog — Pulang Tanpa Meninggalkan Tanah
- Lampiran: Peta Jadul, Coretan Gematria, dan Daftar Bacaan yang Membuatmu Parau
π SINOPSIS (Tanpa Bocoran Gila-Gilaan)
Di sebuah desa di pegunungan Arab Saudi selatan — yang peta resmi sebut ‘tidak penting’ — empat nabi dari zaman berbeda dilaporkan naik ke langit. Bukan mimpi. Bukan simbol. Menurut teks kuno: Henokh menghilang, Elia naik kereta berapi, Yesus terangkat, dan Muhammad menembus lapisan langit.
Selama ini, tempat kejadian tersebar dari Mesopotamia sampai Palestina. Tapi ada tradisi yang dirahasiakan, coretan di manuskrip usang, dan satu angka aneh: 92. Angka yang sama muncul dalam nama Idris (Henokh) dan nama Muhammad. Kebetulan? Atau ada peta ‘landasan pacu’ yang sengaja disembunyikan?
“The Stairway to the Throne” bukan sekadar buku mistik. Ia adalah perjalanan filologi detektif, komedi gelap akademik, dan usaha nekat menyatukan tangga Yakub dengan mi’raj, tanpa harus membakar rumah ibadah tetangga.
⚠️ Peringatan: Buku ini tidak akan memberimu kesaktian. Tidak akan menjadikanmu nabi ke-5. Tapi mungkin — hanya mungkin — kau akan tertawa, marah, lalu ngopi sambil bilang, “Gila, tapi kok masuk akal.”
Komentar
Posting Komentar