Ishmael's Pilgrimage — Ziarah Tanpa Peta, Pulang Tanpa Pasti
✦ terbit Mei 2026 — eksemplar terbatas untuk pencari sumur

Ishmael's Pilgrimage

Dua belas cerpen tentang air, pasir, dan manusia yang haus akan sesuatu yang tak bisa mereka beri nama.

πŸ“– Bukan buku agama. Bukan buku sejarah. Juga bukan buku self-help yang bilang “kamu bisa”.
Ini adalah kumpulan cerita untuk mereka yang percaya bahwa ziarah paling panjang kadang terjadi sambil duduk di kursi bandara, memegang kopi, atau di tepi sumur yang tidak pernah kering.

Dari Tiya, budak perempuan yang diusir ke padang pasir bersama bayinya — sampai Ismail, pria biasa di ruang tunggu maskapai penerbangan. Semua terhubung oleh satu mata air yang tetap dingin meski generasi berganti.

🏜️ “Jika kau haus akan peta, pergilah. Tapi jika kau haus akan cerita yang membuatmu berhenti sejenak — duduklah.”

▸ Daftar Isi & Kisah Singkat

1.Tiya dan Nahor
Seorang budak dari Mesir dihamili, lalu diusir bersama bayinya. Di tengah kehausan yang hampir merenggut nyawa, tanah menjadi basah. Air pertama yang tidak pernah berhenti.
2.Lembah yang Menjadi Kota
Tiya dan Isma tinggal sendirian hingga suku Jurhum datang dari Yaman. Perlahan lembah kering itu ramai. Nama pertamanya: Bakkah.
3.Perempuan dari Dua Peradaban
Tiya di ujung usia, duduk di tepi sumur. Ia merenung: menjadi putri raja yang dihadiahkan sebagai tebusan — tapi tidak pernah menyesal.
4.Dua Belas Anak, Dua Belas Malam
Isma yang tua dan nyaris buta memanggil kedua belas putranya. Tanah tak ia bagi. Yang ia bagikan: ingatan. Dan satu pesan: air tak bisa dimiliki.
5.Pedagang dari Dua Laut
Pemuda setengah Arab-Persia di ejek di Pasar Ukaz. Satu bait syairnya membungkam semua orang. Kekuatan ada di antara, bukan di tepi.
6.Pemuda dari Negeri Nil
Khenemet tersesat di padang pasir, unta mati, bekal habis. Suku Kedar menolongnya. Mereka mengajarinya sumur-sumur rahasia yang tak tercatat di peta.
7.Kain Hitam dari Kedar
Laila menenun dua belas tahun. Di setiap helai, nama leluhur. Ia kirim kain itu ke selatan: “Ini dari saudaramu.” Tak tahu apakah sampai.
8.Rabbi yang Bertanya
Malam di toko buku tua Madinah. Seorang rabi membaca kidung untuk kesekian kalinya. Datang pengunjung asing yang membisikkan: “Dan jika ‘Yerusalem’ bukan di utara?”
9.Juru Kunci yang Tidak Pernah Tidur
Kunci Kakbah berbicara — atau hanya angin? Lewat tengah malam, penjaga tua itu tersenyum: “Yang penting pintu tetap terbuka untuk siapa pun yang haus.”
10.Kolonel Inggris di Padang Pasir
1917, seorang kolonel tersesat. Tak ada bintang, tak ada kompas. Seorang badui muncul dari kegelapan, hanya membawa sebotol air. “Namaku Ismail.”
11.Sumur di Tengah Hotel
Jurnalis dari Indonesia melihat Zamzam palsu terbungkus kaca. Ia menulis: “Yang suci tak butuh dibungkus. Yang butuh dibungkus adalah rasa takut kita akan hal sederhana.”
12.Ismail di Bandara
Pria biasa yang namanya dipakai jutaan orang. Delay 3 jam. Seorang dosen arkeologi pensiunan duduk di sampingnya. Mereka berdebat soal putri raja dan sumur tua. Pesawat dipanggil, tak ada jawaban pasti — tapi ia tersenyum.
✧ plus Pembuka & Penutup dalam puisi prosa

✧ mengapa buku ini layak menemani kopi & penerbungan delay-mu

πŸ“–
Cerita yang lambat & sengaja
Bukan thriller kejar-kejaran. Setiap cerpen adalah ruang kecil untuk berhenti dan mendengar bisikan pasir.
🌍
Jejak dari Mesir, Persia, Yaman hingga London
Identitas hibrid, perantau yang tersesat, pedagang yang disepelekan — semua bertemu di satu sumur.
πŸ•―️
Tanya, bukan jawab
Buku ini tidak menggurui. Ia hanya berbisik: “Bagaimana jika?” dan membiarkan kau memikirkan sendiri.
πŸ’§
Air yang sama 4000 tahun
Zamzam bukan hanya air. Ia pintu: yang haus boleh minum tanpa KTP, tanpa status sosial, tanpa perlu jadi siapa-siapa.
πŸŽ’
Ziarah modern di kursi bandara
Kolonel Inggris yang tersesat, jurnalis yang muak dengan kemasan mewah, pria bernama Ismail. Mereka pulang sedikit berbeda.

🎯 Buku ini untuk siapa? (target market)

  • πŸ“š Pembaca sastra serius (Eka Kurniawan, Leila Chudori, dll)
  • ☕ Mereka yang suka merenung di kafe, bukan yang buru-buru spoiler
  • πŸ•Š️ Pencari spiritual personal tanpa agama instan
  • πŸŽ“ Mahasiswa & akademisi yang penasaran dengan fiksi lintas teks
  • 🌱 Generasi sandwich yang butuh bacaan yang tidak menjerit-jerit
  • ✈️ Perantau/migran yang paham rasa “antara dua rumah”

⚠️ catatan: buku ini tidak cocok bagi pemuja kepastian mutlak, pembenci fiksi, atau mereka yang mudah tersinggung oleh pertanyaan.


🐫 “Jika novel biasanya punya klimaks, buku ini justru ingin kau melambat.
Bahkan berhenti. Duduk di tepi sumur. Dan — jika berani — tidak bertanya kemana.”

— Tim Penyusun Pustaka Negeb Sejati (entitas yang tidak punya NPWP, hanya punya kopi dan tawa)


πŸ“ž Ada yang ingin ditanyakan? Atau hanya ingin mengirim salam ke para ifrit di Hermon?

respon mungkin tidak instan (para penyusun sedang minum kopi atau menenun kain hitam)

Ishmael's Pilgrimage — kumpulan cerpen fiktif dengan setting historis Hijaz
© Tim Penyusun Pustaka Negeb Sejati. Bukan buku agama, bukan buku sejarah. Hanya cerita tentang air, pasir, dan manusia yang haus akan nama.

🚫 Tidak ada tabel dalam percakapan cinta kita — hanya daftar isi & tawa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini