THE SILENCED DEITY
THE SILENCED DEITY:
Sebuah Investigasi tentang Dewi yang Hilang dari Kitab Suci
thriller-sejarah satir · komedi kental · misteri arkeologi absurd
📜 SELAYANG PANDANG
Herodotus — bapak sejarah yang kadang salah alamat — pernah mencatat bahwa orang Arab di abad ke-5 SM menyembah dewi bernama Alilat. Tak ada yang aneh, hingga Anda membuka Tanakh. Kitab yang dengan rajin mendata dewa-dewa bangsa lain: Baal, Asytoret, Milkom, Kamosh, Dagon, Tammuz… Tapi nama Alilat? Nol besar. Bungkam seribu kata.
Seorang detektif lepas, keponakan dari seorang detektif terkenal (yang suka ngobrol dengan kalkulator), penasaran. Ia curiga diamnya ribuan halaman kitab bukanlah kebetulan. Maka dimulailah perjalanan absurd: dari perpustakaan Aleksandria yang hangus terbakar, biara di Sinai yang koleksi manuskripnya misterius ‘hilang’, wadi-wadi di Hijaz, hingga kafe “Langkah 101” di Negev — tempat duduk seorang Ifrit pensiunan yang mengaku, “Aku dulu disembah sebagai Al-Lat. Sekarang aku cuma minum kopi.”
Rafi si detektif (nama sementara, karena ia terlalu lelah untuk mengganti KTP) tidak menemukan peti harta karun. Tidak ada peta emas. Yang ia temukan hanyalah pola: bahwa kadang, yang tidak diceritakan lebih berbicara daripada yang diceritakan. Sisa dari buku ini adalah tawa getir, pertanyaan yang tidak terjawab, dan kopi tubruk yang selalu hangat.
— Ifrit pensiunan, eks-Alilat (atau bukan? terserah yang percaya)
🗂️ DAFTAR ISI
- Prolog— Kopi, Herodotus, dan Satu Pertanyaan yang Mengganggu
- Bab 1— Detektif yang Tidak Sepintar Pamannya
- Bab 2— Membaca Herodotus di Kamar Kos
- Bab 3— Ta'if dan Jejak Berhala yang Tidak Pernah Ditemukan
- Bab 4— Perpustakaan Aleksandria yang Terbakar (atau Sengaja Dibakar)
- Bab 5— Biara Sinai dan Manuskrip yang “Hilang”
- Bab 6— Tabrakan dengan Kolektor Barang Antik yang Tidak Ramah
- Bab 7— Lari ke Jeddah (Lagi)
- Bab 8— Ifrit di Kafe “Langkah 101” yang Mengaku Al-Lat
- Bab 9— Pengakuan: “Aku Dulu Disembah. Sekarang Aku Minum Kopi.”
- Bab 10— Kesimpulan yang Tidak Memuaskan Siapa Pun
- Epilog— Kalkulator Baru, Pertanyaan Lama (yang tidak terjawab)
- Lampiran— Catatan tentang Herodotus, Al-Lat, dan secangkir kopi terakhir
※ plus kejutan absurd: wawancara gagal, kulit pisang di lorong bawah tanah, dan Ifrit yang lebih suka ngopi daripada menerima kurban.
☕ MENGAPA ANDA PERLU MEMBELI BUKU INI
Pernah kepikiran gak: kenapa kitab setebal itu rajin menyebut dewa bangsa Filistin, Moab, Babel, tapi untuk dewi yang dicatat Herodotus? Nggak ada. Buku ini bukan memberi jawaban instan, tapi menemani Anda bergumul dengan misteri “yang sengaja tidak diceritakan”.
Komedi datang dari situasi: detektif bersembunyi di lorong bawah tanah Kairo sambil terpeleset kulit pisang — padahal gak ada pisang. Ifrit pensiunan melayani kopi sambil bergosip tentang dewa-dewi lain yang juga pensiun. Kocak tapi tetap tajam.
Detektif kita tidak punya kalkulator pintar, tidak menyelamatkan dunia, dan di akhir cerita laporannya ditolak. Utangnya tetap menumpuk. Buku ini tidak menjanjikan kemenangan heroik — tapi kejujuran yang justru bikin lega. Kadang yang penting adalah pertanyaannya, bukan jawabannya.
Bukan buku akademik. Tapi kalau Anda suka menyelami celah-celah narasi sejarah, membandingkan catatan Herodotus dengan manuskrip biara, dan tidak takut dengan adegan wawancara dengan makhluk api pensiunan — selamat, buku ini rumah Anda.
Bacanya mengalir: dari kafe Negev ke gurun Hijaz, dari lembaran papirus yang terbakar ke ruang bawah tanah biara. Ditemani dialog absurd dan renungan tentang “identitas” yang dibangun di atas apa yang dihilangkan.
🎯 SIAPA YANG SEBAIKNYA MEMBACA INI?
👉 Juga untuk Anda yang suka bertanya “kenapa ya?” dan tidak alergi dengan ending yang tidak merapikan semua benang.
📢 CATATAN DARI KOPI LANGKAH 101
Buku ini tidak menjanjikan bonus, hadiah, kalkulator bicara, atau peta emas. Tidak ada “gift” digital, tidak ada “free chapter” yang dipaksa. Hanya sebuah buku tentang detektif yang gagal membayar utangnya, ifrit yang lebih suka kopi tubruk daripada kurban, dan pertanyaan mengganggu tentang dewi yang diabaikan kitab kuno. Tidak lebih. Dan itu sudah cukup.
Jika Anda ingin tahu lebih jauh — apakah buku ini akan membuat Anda tertawa, merenung, atau sekadar menemani perjalanan kereta — silakan kontak langsung lewat WhatsApp di bawah. Kami tidak menggigit. Kecuali Ifrit-nya sedang lapar, tapi ia sudah pensiun.
Komentar
Posting Komentar