The Silenced Deity · Buku 27 · Pustaka Negeb Sejati
✦ BINTANG PENGEMBARA · BUKU 27 ✦

THE SILENCED DEITY

Mengapa Herodotus tahu Alilat, tapi Tanakh pura-pura lupa — dan seorang detektif keponakan Jibril mencari jawaban sambil minum kopi bersama Ifrit pensiunan.
📖 sampul belakang bilang

THE SILENCED DEITY:
Sebuah Investigasi tentang Dewi yang Hilang dari Kitab Suci

thriller-sejarah satir · komedi kental · misteri arkeologi absurd

💬 Tanya via WhatsApp · 087784181437
(Klik untuk menghubungi langsung)

📜 SELAYANG PANDANG

Herodotus — bapak sejarah yang kadang salah alamat — pernah mencatat bahwa orang Arab di abad ke-5 SM menyembah dewi bernama Alilat. Tak ada yang aneh, hingga Anda membuka Tanakh. Kitab yang dengan rajin mendata dewa-dewa bangsa lain: Baal, Asytoret, Milkom, Kamosh, Dagon, Tammuz… Tapi nama Alilat? Nol besar. Bungkam seribu kata.

Seorang detektif lepas, keponakan dari seorang detektif terkenal (yang suka ngobrol dengan kalkulator), penasaran. Ia curiga diamnya ribuan halaman kitab bukanlah kebetulan. Maka dimulailah perjalanan absurd: dari perpustakaan Aleksandria yang hangus terbakar, biara di Sinai yang koleksi manuskripnya misterius ‘hilang’, wadi-wadi di Hijaz, hingga kafe “Langkah 101” di Negev — tempat duduk seorang Ifrit pensiunan yang mengaku, “Aku dulu disembah sebagai Al-Lat. Sekarang aku cuma minum kopi.”

Rafi si detektif (nama sementara, karena ia terlalu lelah untuk mengganti KTP) tidak menemukan peti harta karun. Tidak ada peta emas. Yang ia temukan hanyalah pola: bahwa kadang, yang tidak diceritakan lebih berbicara daripada yang diceritakan. Sisa dari buku ini adalah tawa getir, pertanyaan yang tidak terjawab, dan kopi tubruk yang selalu hangat.

☕ “Kau pikir dewa itu abadi? Kami juga bisa bosan. Sekarang aku hanya minum kopi. Mau pesan apa?”
— Ifrit pensiunan, eks-Alilat (atau bukan? terserah yang percaya)

🗂️ DAFTAR ISI

  • Prolog— Kopi, Herodotus, dan Satu Pertanyaan yang Mengganggu
  • Bab 1— Detektif yang Tidak Sepintar Pamannya
  • Bab 2— Membaca Herodotus di Kamar Kos
  • Bab 3— Ta'if dan Jejak Berhala yang Tidak Pernah Ditemukan
  • Bab 4— Perpustakaan Aleksandria yang Terbakar (atau Sengaja Dibakar)
  • Bab 5— Biara Sinai dan Manuskrip yang “Hilang”
  • Bab 6— Tabrakan dengan Kolektor Barang Antik yang Tidak Ramah
  • Bab 7— Lari ke Jeddah (Lagi)
  • Bab 8— Ifrit di Kafe “Langkah 101” yang Mengaku Al-Lat
  • Bab 9— Pengakuan: “Aku Dulu Disembah. Sekarang Aku Minum Kopi.”
  • Bab 10— Kesimpulan yang Tidak Memuaskan Siapa Pun
  • Epilog— Kalkulator Baru, Pertanyaan Lama (yang tidak terjawab)
  • Lampiran— Catatan tentang Herodotus, Al-Lat, dan secangkir kopi terakhir

※ plus kejutan absurd: wawancara gagal, kulit pisang di lorong bawah tanah, dan Ifrit yang lebih suka ngopi daripada menerima kurban.

☕ MENGAPA ANDA PERLU MEMBELI BUKU INI

🔍 1. Pertanyaan yang jarang diajukan
Pernah kepikiran gak: kenapa kitab setebal itu rajin menyebut dewa bangsa Filistin, Moab, Babel, tapi untuk dewi yang dicatat Herodotus? Nggak ada. Buku ini bukan memberi jawaban instan, tapi menemani Anda bergumul dengan misteri “yang sengaja tidak diceritakan”.
😂 2. Thriller-sejarah + komedi absurd yang tidak ofensif
Komedi datang dari situasi: detektif bersembunyi di lorong bawah tanah Kairo sambil terpeleset kulit pisang — padahal gak ada pisang. Ifrit pensiunan melayani kopi sambil bergosip tentang dewa-dewi lain yang juga pensiun. Kocak tapi tetap tajam.
📚 3. Gagal itu jujur — langka di genre detektif
Detektif kita tidak punya kalkulator pintar, tidak menyelamatkan dunia, dan di akhir cerita laporannya ditolak. Utangnya tetap menumpuk. Buku ini tidak menjanjikan kemenangan heroik — tapi kejujuran yang justru bikin lega. Kadang yang penting adalah pertanyaannya, bukan jawabannya.
🎭 4. Sajian untuk penggemar investigasi budaya dan teks kuno
Bukan buku akademik. Tapi kalau Anda suka menyelami celah-celah narasi sejarah, membandingkan catatan Herodotus dengan manuskrip biara, dan tidak takut dengan adegan wawancara dengan makhluk api pensiunan — selamat, buku ini rumah Anda.
🧠 5. Cocok dibaca sambil minum kopi, tidak perlu komitmen berbulan-bulan
Bacanya mengalir: dari kafe Negev ke gurun Hijaz, dari lembaran papirus yang terbakar ke ruang bawah tanah biara. Ditemani dialog absurd dan renungan tentang “identitas” yang dibangun di atas apa yang dihilangkan.

🎯 SIAPA YANG SEBAIKNYA MEMBACA INI?

Pembaca SNNS (Semesta Negeb Sejati) Penggemar fiksi sejarah satir Penikmat komedi absurd & detektif gagal Ekspatriat & pembaca Indonesia yang suka misteri lintas budaya Mereka yang penasaran tentang “yang tidak tertulis dalam kitab suci” (dari sisi teks & tradisi) Pembaca yang suka cameo ifrit pensiunan selevel “Langkah 101” Orang yang capek dengan buku detektif sok sukses — pengen cerita yang lebih manusiawi dan ngakak

👉 Juga untuk Anda yang suka bertanya “kenapa ya?” dan tidak alergi dengan ending yang tidak merapikan semua benang.

📢 CATATAN DARI KOPI LANGKAH 101

Buku ini tidak menjanjikan bonus, hadiah, kalkulator bicara, atau peta emas. Tidak ada “gift” digital, tidak ada “free chapter” yang dipaksa. Hanya sebuah buku tentang detektif yang gagal membayar utangnya, ifrit yang lebih suka kopi tubruk daripada kurban, dan pertanyaan mengganggu tentang dewi yang diabaikan kitab kuno. Tidak lebih. Dan itu sudah cukup.

Jika Anda ingin tahu lebih jauh — apakah buku ini akan membuat Anda tertawa, merenung, atau sekadar menemani perjalanan kereta — silakan kontak langsung lewat WhatsApp di bawah. Kami tidak menggigit. Kecuali Ifrit-nya sedang lapar, tapi ia sudah pensiun.


📱 Hubungi via WhatsApp · 087784181437
(Senin–Jumat, balasan kadang sambil minum kopi)
✦ Bintang Pengembara · Buku ke-27 dari Pustaka Negeb Sejati ✦
Cerita fiktif. Ifrit yang minum kopi hanyalah karakter. Tidak ada dewa yang terluka dalam proses penulisan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini